PT EquityWorld Futures: Ekonom Standar Chartered Bank, Fauzi Ichsan, menilai
dampak kenaikan harga elpiji 12 kilogram terhadap inflasi Agustus
terbilang kecil dibanding dampak kenaikan harga bahan bakar minyak
(BBM). "Dampaknya ada, tapi kecil sekali, naikkan sajalah untuk
mengurangi kerugiannya," ujarnya saat dihubungi, Ahad, 10 Agustus 2014.
Menurut
Fauzi, rencana kenaikan elpiji 12 kg itu bisa segera dieksekusi
pemerintah karena tidak terlalu berimplikasi terhadap inflasi. Hal ini
berbeda dengan kenaikan harga BBM, yang begitu naik langsung mengatrol
harga makanan dan tarif transportasi jadi meningkat. Kedua sektor itulah
yang justru berkontribusi besar pada laju inflasi. "Costumer index
price (bobot harga indeks) elpiji kecil sekali dibanding makanan dan
transportasi, masih aman jika naik," katanya.
Fauzi
menilai PT Pertamina (Persero) terpaksa harus menaikkan harga elpiji
nonsubsidi untuk mengurangi kerugian perusahaan. Sebab, selama ini harga
jual yang dipatok Pertamina jauh di bawah standar harga perolehan.
"Kenaikan itu jelas dengan sendirinya mengurangi kerugiannya," ujarnya.
Selain
itu, kata Fauzi, kenaikan harga elpiji 12 kilogram justru berpotensi
memberikan kenaikan pajak yang diterima pemerintah. "Kalau harga naik,
pajak mereka juga tentunya naik, kan," ujarnya.
Seperti
diketahui, harga jual elpiji yang dikeluarkan Pertamina jauh di bawah
harga pokok. Merujuk harga yang ditetapkan pada Oktober 2009, yaitu Rp
5.850 per kilogram, padahal harga pokok perolehannya mencapai Rp 10.787
per kilogram. Akibat selisih itu, Pertamina menanggung kerugian hingga
Rp 22 triliun dalam enam tahun terakhir.
Sumber berita: www.tempo.co
Sumber berita: www.tempo.co
0 komentar:
Posting Komentar