Sumber berita: http://finance.detik.com/read/2014/06/09/120828/2602787/4/ekonomi-ri-cepat-panas-ini-penjelasannya
PT EquityWorld Futures: Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia terpaksa diperlambat setelah dalam
beberapa tahun terakhir tumbuh di atas 6%. Ini karena ekonomi Indonesia
masih cenderung cepat terlalu panas, alias overheating.
Tahun ini, diperkirakan ekonomi hanya dapat tumbuh di kisaran 5,1%-5,5%. Lebih rendah dari asumsi sebelumnya yaitu 6%.
"Ekonomi kita ini masih sangat terlalu cepat panas," ungkap Mirza Adityaswara saat fit and proper test Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dihadapan Komisi XI, di Gedung DPR/MPR/DPD RI, Jakarta, Senin (9/6/2014).
Overheating perekonomian Indonesia, lanjut Mirza, terlihat saat suku bunga acuan BI Rate masih 5,75%. Ketika itu, pertumbuhan kredit mencapai 20%. Pertumbuhan kredit yang cepat menunjukkan ekspansi dunia usaha yang cukup agresif.
Namun, ekspansi tersebut tidak didukung penyediaan bahan baku dan barang modal dari industri dalam negeri. Akibatnya, berbagai kebutuhan itu harus didatangkan melalui impor.
Kondisi tersebut memaksa neraca perdagangan dan transaksi berjalan menjadi defisit. "Kalau kredit tumbuh cepat, maka impor tumbuh cepat. Kalau itu terjadi, maka ancamannya ada defisit neraca perdagangan dan kemudian defisit transaksi berjalan," ucap Mirza.
Saat ini, suku bunga acuan adalah 7,5%. Kebijakan tersebut merupakan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan, meski potensi lonjakan impor masih ada.
"Ini masih menjadi tantangan, apalagi ekspor impor di kuartal II itu bisa meningkat dibandingkan kuartal I. Memang setiap kali kita genjot pertumbuhan, maka impor membesar dan membuat defisit di current account," tuturnya.

Tahun ini, diperkirakan ekonomi hanya dapat tumbuh di kisaran 5,1%-5,5%. Lebih rendah dari asumsi sebelumnya yaitu 6%.
"Ekonomi kita ini masih sangat terlalu cepat panas," ungkap Mirza Adityaswara saat fit and proper test Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dihadapan Komisi XI, di Gedung DPR/MPR/DPD RI, Jakarta, Senin (9/6/2014).
Overheating perekonomian Indonesia, lanjut Mirza, terlihat saat suku bunga acuan BI Rate masih 5,75%. Ketika itu, pertumbuhan kredit mencapai 20%. Pertumbuhan kredit yang cepat menunjukkan ekspansi dunia usaha yang cukup agresif.
Namun, ekspansi tersebut tidak didukung penyediaan bahan baku dan barang modal dari industri dalam negeri. Akibatnya, berbagai kebutuhan itu harus didatangkan melalui impor.
Kondisi tersebut memaksa neraca perdagangan dan transaksi berjalan menjadi defisit. "Kalau kredit tumbuh cepat, maka impor tumbuh cepat. Kalau itu terjadi, maka ancamannya ada defisit neraca perdagangan dan kemudian defisit transaksi berjalan," ucap Mirza.
Saat ini, suku bunga acuan adalah 7,5%. Kebijakan tersebut merupakan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan, meski potensi lonjakan impor masih ada.
"Ini masih menjadi tantangan, apalagi ekspor impor di kuartal II itu bisa meningkat dibandingkan kuartal I. Memang setiap kali kita genjot pertumbuhan, maka impor membesar dan membuat defisit di current account," tuturnya.
0 komentar:
Posting Komentar