Link Berita: http://plasadana.com/content.php?id=7534
PT EquityWorld Futures: Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo menegaskan, besarnya nilai defisit neraca perdagangan April 2014 yang mencapai US$1,96 miliar akan sulit bagi rupiah untuk menguat terhadap dolar AS.
"Secara umum, BI masih akan menjaga policy moneter-nya seperti sekarang ini. Kalau terkait nilai tukar, faktormya adalah seandainya neraca perdagangannya ada defisit begitu besar, bagaimana mau menguat rupiahnya?" kata Agus Marto di Jakarta, Kamis (5/6).
Agus Marto berharap, pemerintah mampu memperbaiki kinerja ekspor melalui upaya yang ekstra kuat. "Bagaimana ekspor diperbaiki agar meningkat. Ekspor komoditas, mineral terjadi penurunan. Yang nonmineral memang terjadi peningkatan, tetapi impor kita besar," ujarnya.
Menurut dia, neraca pendapatan dan jasa Indonesia juga terus mengalami defisit, sehingga perlu untuk diperbaiki. "Kita juga perlu mengantisipasi kondisi global, karena perkembangan di Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya pada 20 tahun tumbuh rata-rata 10,4 persen, sekarang hanya sekitar 7,4-7,5 persen. Ini berdampak kepada Indonesia," paparnya.
Namun demikian, jelas dia, BI tidak menargetkan besaran rupiah pada posisi tertentu, namun berupaya agar nilai tukar mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. "Yang utama, bagaimana neraca perdagangan bisa surplus kembali dan neraca transaksi berjalan membaik," ucap Agus Marto.
Dia menambahkan, BI memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan di 2014 akan berada di bawah 3 persen dari PDB. "Kalau kita bisa menjaga di bawah 3 persen, tentu ini menunjukkan kondisi perbaikan. Dan itu memerlukan kerja keras semua pihak," katanya.
"Secara umum, BI masih akan menjaga policy moneter-nya seperti sekarang ini. Kalau terkait nilai tukar, faktormya adalah seandainya neraca perdagangannya ada defisit begitu besar, bagaimana mau menguat rupiahnya?" kata Agus Marto di Jakarta, Kamis (5/6).
Agus Marto berharap, pemerintah mampu memperbaiki kinerja ekspor melalui upaya yang ekstra kuat. "Bagaimana ekspor diperbaiki agar meningkat. Ekspor komoditas, mineral terjadi penurunan. Yang nonmineral memang terjadi peningkatan, tetapi impor kita besar," ujarnya.
Menurut dia, neraca pendapatan dan jasa Indonesia juga terus mengalami defisit, sehingga perlu untuk diperbaiki. "Kita juga perlu mengantisipasi kondisi global, karena perkembangan di Tiongkok yang pertumbuhan ekonominya pada 20 tahun tumbuh rata-rata 10,4 persen, sekarang hanya sekitar 7,4-7,5 persen. Ini berdampak kepada Indonesia," paparnya.
Namun demikian, jelas dia, BI tidak menargetkan besaran rupiah pada posisi tertentu, namun berupaya agar nilai tukar mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. "Yang utama, bagaimana neraca perdagangan bisa surplus kembali dan neraca transaksi berjalan membaik," ucap Agus Marto.
Dia menambahkan, BI memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan di 2014 akan berada di bawah 3 persen dari PDB. "Kalau kita bisa menjaga di bawah 3 persen, tentu ini menunjukkan kondisi perbaikan. Dan itu memerlukan kerja keras semua pihak," katanya.
0 komentar:
Posting Komentar